Tampilkan postingan dengan label Info Kita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Info Kita. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 Desember 2013

Pendidikan Di Tengah Arus Globalisasi

Pendidikan merupakan kunci kemajuan suatu bangsa. Maju mundurnya suatu bangsa ditentukan oleh sumber daya manusia yang ada di negera tersebut, sumber daya manusia yang handal dan kredibel tidak akan pernah ada tanpa campur tangan pendidikan. Pendidikan apapun bentuknya, baik formal (sekolah, pusat studi, bimbingan belajar, dll) maupun informal (keluarga, lingkungan, peer group dll). Lantas pendidikan semacam apa yang mampu menghasilkan sumber daya-sumber daya manusia yang kredibel dan penuh integritas? Tentu pendidikan yang mampu menyentuh hati orang yang dididik, membekas dalam sanubari dan tidak mudah luntur tergerus arus globalisasi.
Pendidikan yang mampu menembus hati adalah pendidikan yang diberikan juga melalui hati, ketulusan, melihat dimensi biologis, psikis, sosial, dan spiritual dari anak didiknya. Ada banyak tipe murid, yang kesemuanya itu berbeda, tidak ada yang sama (individual differences). Ada siswa yang mudah menerima pelajaran, pun sebaliknya. Hal tersebut wajar dalam dunia pendidikan, itulah kekayaan intelektual. Seorang pendidik yang baik ia akan memahami perbedaan tersebut, memahami tidak lantas untuk menjudgment (memberikan penilaian) bahwa anak didik A bodoh, anak didik B pintar, tidak. Tetapi pengetahuan tentang perbedaan tersebut hendaknya dijadikan landasan untuk menyikapi anak secara bijak.
Lantas bagaimana langkah seorang pendidik yang baik dalam mendidik anak didiknya?. Seorang pendidik yang baik amat sangat dilarang untuk memberikan judgement kepada anak didiknya dengan judgmenet “bodoh”, hal tersebut akan melekat dalam diri anak didik, seorang anak yang diberi label seperti itu oleh pendidiknya atau bahkan lingkungannya, itu menjadikan anak mempersepsikan dirinya sebagai orang yang bodoh. Hal tersebut tentu sangat merugikan anak, potensi-potensi gemilang yang dimiliki anak justru akan terkubur, tidak hanya itu, anak akan menjadi pribadi yang pesimis, pemalu, bahkan dalam kapasitas yang berat akan menimbulkan depresi atau delinkuensi (kenakalan remaja).
Selanjutnya pendidik juga harus memperhatikan dimensi biologis anak, kesehatan anak, asupan gizinya, bisa saja anak didik A yang dilabel bodoh karena secara gizi ia kurang dari B yang dianggap pintar. Dimensi lainnya yang juga tidak kalah pentingnya adalah psikis atau psikologis, seorang pendidik hendaknya memperhatikan aspek ini. Sisi psikologis adalah sisi abstrak yang tidak bisa dilihat dengan kasat mata. Seorang pendidik harus peka terhadap psikis anak didiknya. Dimensi ini mencakup motivasi, emosi, adakah trauma masa lalu, adakah kekerasan yang membuat anak takut, attachment (kelekatan) baik dengan teman, orang tua maupun guru, persepsi diri, dan masih banyak lagi. Bisa saja seorang anak yang dilabel bodoh oleh pendidiknya sebenarnya dia anak yang pintar, hanya karena anak tersebut memiliki trauma masa lalu yang membuatnya tidak termotivasi untuk belajar sehingga prestasinya rendah dibanding anak yang dilabel pintar karena mungkin anak pintar tersebut tidak memiliki konflik psikis.
Dimensi selanjutnya yang perlu diperhatikan adalah dimensi sosial, bagaimana interaksi anak dengan temannya, bagaimana lingkungan pendidikannya. Jangan sampai pendidik melabel bodoh kepada anak didiknya yang ternyata bukan anak didiknya yang bodoh tetapi lingkungan pendidikan yang disediakan tidak kondusif (misal, di tengah tempat pelacuran dll). Dimensi lainnya yaitu spiritual. Masing-masing anak memiliki tingkat spiritual yang berbeda, tidak bisa disama ratakan harus ‘alimsemua, karena sejatinya semua manusia memiliki kesadaran akan Tuhan yang berbeda-beda pula (waktu dan tingkatannya).
Seorang pendidik, harus memperhatikan keempat dimensi tersebut dalam mendidikan anak didiknya. Satu anak dengan anak lainnya memiliki karakter yang berbeda sesuai latar belakang biopsikososiospiritual, sehingga dekatilah anak didik dengan karakter anak masing-masing. Hal ini menjadi penting karena dengan seorang pendidik mengerti latar belakang biopsikososiospiritual, seorang pendidik menjadi lebih bijak dalam menyikapi anak didiknya, dan perlu diketahui, pendidik yang bijak itulah pendidik yang mendidik menggunakan hati, dan pendidik yang menggunakan hati akan dicintai anak didiknya, ilmunya akan selalu dikenang dan anak didik pun akan menjadi manusia-manusia yang sesuai harapan bangsa.
Oleh : Feny Cholisoh
Alumni PPST Ar-Risalah,sekarang Mahasiswi UII Jogjakarta Jurusan Psikologi 2010
sumber : www.arrisalah.org

Kamis, 24 Januari 2013

CINTAILAH MEREKA SEUTUHNYA

Bicara tentang remaja atau ABG (Anak Baru Gede) akan selalu menyenangkan tetapi sekaligus melelahkan. Menyenangkan, karena inilah masa pertumbuhan kekuatan dan usia, dimana bertumpu harapan semua orang tentang masa depan peradaban ini. Melelahkan, karena berjuta kata takkan bisa mengurai habis problematika dan kenakalan para remaja. Tetapi, justru disinilah sebenarnya tantangan dan sisi menariknya.
Maka tidak heran kalau para kapitalis yang diwakili industri dunia hiburan, berburu habis semua hal yang berhubungan dengan remaja yang bisa diangkat ke dunia hiburan. Hampir semua hiburan, mulai film, sinetron, musik, iklan, reality show sampai kuis, didominasi tema-tema remaja. Di samping beralasan membantu membentuk karakter remaja (entah karakter yang bagaimana?), mereka juga merasakan untung yang berlipat-lipat karena tema remaja memang sangat laku di pasaran. Sungguh, tak bisa kita bayangkan nasib bangsa dan agama ini ke depan kalau pendidikan para remaja diserahkan kepada para kapitalis bermental materialistis yang menghalalkan segala cara itu.
Dan tidak dapat dipungkiri kalau kerusakan remaja kita memang sudah sangat parah dan kompleks. Oleh karena itu harus terus dilakukan “berbagai cara” yang kreatif dan inovatif tapi tetap dalam koridor syari’at agar para remaja kita “takluk” di tangan para da’i, bukan takluk di tangan selebritis. Dan tentu, penanganannya pun harus menyeluruh, terpadu dan terukur.
 
REMAJA ITU…
1.             Tidak Suka Dinasehati Apalagi Dimarahi
2.             Mencari Contoh untuk Dirinya
3.             Aktualisasi Diri
4.             Saatnya Jatuh Cinta
Mengapa mereka lebih condong ke acara-acara yang sama sekali tidak bermanfaat? Apa alasan mereka tidak mau datang ke acara-acara ke-Islaman? 76% menjawab: Malas, 20% menjawab: Membosankan/tidak menarik dan paling hanya gitu-gitu saja. Yang diomongin paling surga, neraka, pahala dan dosa, 4%  menjawab: Tergantung
 
Kondisi Hari Ini
Mereka akan terdiam seribu bahasa saat ditanya 10 sahabat Nabi yang dijamin masuk surga. Tapi mereka akan antusias saat disuruh menyebut 20 celebrity yang dikenal. Lagu-lagu lebih dihafal daripada ayat-ayat Quran. Nongkrong di mall lebih disukai daripada ‘nongkrong’ di masjid (i’tikaf), novel tentu lebih menarik dari Qur’an. Belum lagi masalah pornografi, video mesum, free sex, narkoba, berani ke ortu, tawuran, malas belajar, dsb. Kalau diurai akan habis pena ini. Uhh…
 
Penyebab
Lemah iman, Kenakalan Ortu, Serbuan tekhnologi, Hukum yang lemah, Kurang kompak antar elemen bangsa, kepemimipnan yang lemah.
 
Solusi
Maka kunci sukses menaklukan remaja adalah pelayanan yang berkualitas bagi mereka sehingga mereka merasa nyaman dengan kegiatan ke-Islaman.
 
Apa Modal Kita Untuk Menghadapi Mereka?
-  Iman
Secara umum da’wah memang harus karena panggilan iman. Atau lebih tepatnya konsekuensi dari iman adalah menyebarkan apa yang diyakini ke seluruh manusia, yang dalam hal ini adalah para remaja. (QS 3:110)
- Ikhlas
“Maka barang siapa yakin sepenuhnya akan berjumpa dengan Rabnya, hendaklah dia beramal sholeh dan janganlah ia memepersekutukan dengan siapapun dalam beribadah kepada Rabbnya.”  (Al-Kahfi:110)
- Sabar
“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.”       (Ali-Imran: 200)
-                           Optimis
Optimislah yang membuat sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin. Menghadapi dunia remaja, optimisme harus bergelora. Kalau ada remaja yang nakalnya minta ampun, ngedrug, terlibat sex bebas, suka berpakaian mini dan ketat atau berani kepada orang tua, janganlah membuat para da’i kehilangan optimisme (QS 3:139)
 
Modal Khusus
-  PeDe
Menurut pengalaman penulis asal kita bisa ngemong dan mengambil hati mereka, Insya Allah fisik dan penampilan kita dinomorduakan kok!
 
-  Mengikuti yang paling Aktual di Kalangan Remaja
Ini sesuai dengan pesan Rasulullah saw: ”Bicaralah sesuai dengan bahasa kaummu!”
-  Wide Not Deep
Artinya sebisa mungkin kita mengerti segala permasalahan walaupun tidak detail. Tentu saja mengerti semua dan sedetail-detainya akan lebih baik. Kita tidak ingin ada seorang remaja yang sedang semangat-semangatnya ngaji dan punya banyak pertanyaan yang harus segera dijawab justru kita tidak mengetahui permasalahannya. Karena kita tidak mampu “menyenangkan” mereka dalam menjawab.
-                 Punya Empati Remaja
Mungkin kita dulu pernah punya masa lalu jahiliyyah. Mungkin kita dulu waktu remaja bandelnya juga luar biasa. Apa yang kita lakukan jika orang tua marah-marah? Apa yang kita perbuat jika ada undangan pengajian buat remaja di mushola desa atau sekolah? Punya pacar, suka nonton film juga, khan?
Apa reaksi kita? Persis! Dan itulah perasaan dan reaksi remaja sekarang jika diomelin atau diajak melakukan kebaikan. Bisa jadi kita lebih parah dari mereka dalam bereaksi.
Nah, dengan empati seperti itu kita mencoba cara-cara yang membuatnya merasa tidak disalahkan atau dimarahi!
 
SERUAN UMUM
1.            Mari kita mulai mengatasi remaja ini dari diri sendiri. Apa-apa yang menjadi masalah di dunia remaja KITA harus sudah menjauhinya. Ifda’ bi nafsik kata Rasulullah saw
2.            Mulai dari pasangan dan anak-anak kita. Keluarga adalah langkah pertama solusi bangsa ini. Akan berbahaya besar jika masing-masing keluarga belum memulai hidup Islami
3.            Buat perkumpulan-perkumpulan yang berdaya guna
4.            Ayo ‘tekan’ pemerintah, dewan dan MEDIA agar focus di masalah ini.
______
Di sampaikan dalam seminar dan jumpa fans Radio Risalah FM di Musolla PPST Ar-Risalah Lirboyo,ahad 20 Januari 2013
 
Oleh: Marenda Darwis
Pengasuh Kafe Curhat Klub Remaja Ceria. Penulis Buku (Apakah Bibirmu Masih Perawan, Kafe Curhat Remaja, Kecanduan Shalat dan Klinik Cinta) HP: 0852-3529-3529  FB: Marenda Darwis ll, Twitter: @kafecurhat

Senin, 07 Januari 2013

GENERASI PENAKLUK MODERNISME

Pembicaraan tentang issu modern, dalam banyak konteks, sering dirujukkan pada historis era Renaissance (Kebangkitan Kembali) abad ke-15 dan 16 di Eropa, setelah sekian waktu –selama Abad Pertengahan– bangsa Eropa hidup dalam masa yang mereka sebut Dark Age (Era Kegelapan). Sebuah masa di bawah dominasi dogma-dogma Gereja yang mengungkung kemerdekaan dan kebebasan manusia. Era Renaissance menjadi titik tolak bagi bangsa Eropa menuju peradaban modern yang mereka sebut dengan Enlightenment atau Aufklarung (Era Pencerahan) pada abad ke-18.  

Secara historis, bergulirnya istilah modern –yang selanjutnya melahirkan derivasi kata turunan: modernisme, modernisasi, dan modernitas– adalah merupakan fenomena sejarah kudeta sosial-kebudayaan untuk menghentikan, menyudahi, memutus, dan melepaskan diri dari cengkraman sejarah sebelumnya yang ‘gelap’, dan menghendaki sesuatu yang baru dan ‘cerah’. Dengan kata lain, modernisasi adalah sejarah penaklukan nilai-nilai lama (Abad Pertengahan) oleh nilai-nilai baru (modernitas). Karena itu, modernisme merupakan keyakinan yang cenderung mensubordinasikan yang tradisional, bahkan mengambil posisi yang berlawanan dengan nilai-nilai lama demi terciptanya nilai-nilai baru.

Pada fase berikutnya, term modernisme mengalami pergeseran dan perluasan makna menjadi: paham, pandangan, dan sikap hidup yang berbasis pada kekinian untuk menghadapi realitas kontemporer secara relevan sebagai konsekuensi dinamis dari kematangan manusia. Dalam paham modernisme, masa kini menjadi titik sentral sebagai sumber sejarah, bukan masa lalu.

Secara fenomenologis, era modern ditandai dengan menjadikan rasionalisasi sebagai ruh di setiap dimensi kehidupan secara massif. Modernisme menempatkan rasio di atas wahyu (dogma-dogma Gereja), kemajuan di atas kemapanan, dan kekinian di atas tradisi masa silam. Dengan modernisasi, kebenaran wahyu diuji di hadapan rasio, supremasi kekuasaan digugat melalui kritik, dan keshahihan tradisi dipertanyakan berdasarkan relevansi dan harapan masa depan yang lebih baik.

Di era modern, sejak suatu masyarakat menyatakan diri melaksanakan proses modernisasi, maka masyarakat tersebut harus siap meninggalkan sikap-sikap naif, jumud, dogmatis, dan anti-perubahan, untuk kemudian meleburkan diri dalam suatu proyek sejarah umat manusia mencapai kemajuan-kemajuan masa depan. Karena itu, ledakan revolusi, evolusi, transvormasi, dan progresivitas, baik di bidang sains, teknologi, industri, ekonomi, politik, budaya, informasi, pemikiran, dll., dalam era modern melaju pesat menjadi fenomena dahsyat dan loncatan sejarah.

Realitas dahsyat era modern yang menjadi capaian dan prestasi sejarah melalui proses modernisasi ini, tidak luput menciptakan ekses-ekses negatif yang disebut krisis modernisme. Bahkan krisis modernisme ini, telah membidani bagi kelahiran era post-modernisme, yang datang memberikan oto-kritik terhadap kegagalan modernisme memberikan janji-janji kehidupan yang lebih baik. Setidaknya ada lima alasan penting terjadinya krisis modernisme:
  1. Modernisme dinilai telah gagal mewujudkan perbaikan-perbaikan dramatis bagi kehidupan seperti diharapkan oleh para pendukung fanatiknya.
  2. Terdapat banyak kontradiksi antara teori dan fakta dalam perkembangan ilmu-ilmu modern.
  3. Ilmu pengetahuan modern tidak benar-benar mampu membebaskan dari kesewenang-wenangan dan penyalahgunaan otoritas keilmuan demi kepentingan kekuasaan.
  4. Ada semacam keyakinan bahwa ilmu pengetahuan modern mampu memecahkan segala persoalan yang dihadapi manusia. Namun ternyata keyakinan tersebut keliru dengan munculnya berbagai patologi (penyakit) sosial, seperti dekadensi moral, kelaparan, kemiskinan, kebodohan, penindasan, dan kerusakan lingkungan, yang terus mengiringi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern.
  5. Ilmu-ilmu modern acuh terhadap dimensi-dimensi mistis, metafisis, dan spiritual manusia, akibat terlalu mementingkan atribut fisik, materi, dan rasio, sehingga kegersangan ruhaniah benar-benar melanda manusia modern.
Disamping itu, lunturnya ikatan sosial, melemahnya kekuatan norma agama, dan runtuhnya etika tradisional, telah memicu munculnya berbagai problem sosial yang sebelumnya tidak diperhitungkan. Krisis modernisme telah mencoreng dan menjadikan wajah modernisme menjadi tampak buruk dan menakutkan. Bahkan bagi kalangan eksklusif, modernisme telah menjelma sebagai hantu sejarah yang sangat mengerikan.

Capaian prestasi era modern yang luar biasa hebat di satu sisi, dan krisis modernisme yang sangat destruktif terhadap nilai-nilai kemanusiaan di sisi lain, membuat respon yang variatif dalam menyikapi kenyataan era modern. Setidaknya, ada tiga kelompok manusia yang berbeda dalam merespon arus modernitas yang terus bergulir tanpa kompromi menggilas ruang dan waktu:  

1.   Anti Modernitas

Anti-modernitas adalah kelompok manusia yang apatis, menolak, dan –bahkan dalam titik ekstrem– alergi dengan segala produk modernitas, entah dalam bidang sains, teknologi, ekonomi, politik, budaya, seni, pemikiran, dll. Di mata kelompok anti-modernitas, yang tampak dari realitas dunia modern adalah wajah buruk peradaban. Dunia modern dengan segala produk kontemporernya dipandang tidak sebanding dengan ekses destruktif yang ditimbulkan, yang menghancurkan supremasi khazanah lama yang diagungkan.

Pandangan hidup manusia anti-modernitas bersifat eksklusif dan anti-perubahan, yang tertutup terhadap segala yang baru. Kelompok ini mengalami rasa kecemasan, ketakutan, dan skeptis yang akut dengan modernitas, sehingga memilih melarikan diri dari kenyataan dunia modern dengan mengasingkan dan menutup diri dalam romantisme masa lalu. Sederhananya, dalam mindset kelompok manusia anti-modern, modernitas bukan suatu realitas yang menantang untuk dihadapi, melainkan hantu sejarah yang menakutkan dan harus dijauhi.  

2.   Korban Modernitas

Korban modernitas adalah kelompok manusia yang over inklusif terhadap realitas dan segala produk dunia modern. Saking terbukanya, kelompok ini praktis mengalami syndrom modernitas. Mereka menjadi abai dan krisis simpati dengan nilai-nilai tradisional dan masa lalu. Bahkan ia kehilangan daya filter untuk membedakan antara hakikat kemajuan dengan kehancuran. Kondisi demikian, lebih dikarenakan faktor ketidaksiapan secara mental untuk menghadapi fenomena era modern, sehingga kelompok inilah sebenarnya yang memainkan peran penting krisis modernisme.

Dalam dunia teknologi, eksistensi kelompok ini bisa dijumpai pada tipikal orang-orang gaptek (gagap teknologi) dalam artikulasi yang luas. Gaptek dalam pengertian yang luas bukan hanya mereka yang terasing dengan istilah dan kegunaan produk-produk teknologi modern, tapi sekaligus mereka yang akrab dengan teknologi modern namun tidak memiliki kemampuan untuk memanfaatkannya secara produktif. Kelompok ini cenderung memanfaatkan fasilitas teknologi modern untuk kepentingan-kepentingan yang merugikan. Fenomena pemanfaatan teknologi modern yang justru menjadi perusak bagi mentalitas, moralitas, dan produktivitas, adalah indikasi dari ketidaksiapan menghadapi era modern, sehingga ia menjadi korban dari modernitas itu sendiri.

Dalam dunia ekonomi, eksistensi korban modernitas bisa dijumpai pada tipikal penganut konsumerisme. Yaitu ideologi yang menjadikan seseorang atau kelompok melakukan proses konsumsi atau pemakaian barang-barang hasil produksi secara berlebihan dan berkelanjutan. Tipikal konsumtif menjadikan manusia pecandu dari suatu produk yang sulit atau tidak bisa dihilangkan, sehingga menjadi penyakit jiwa yang menjangkiti masyarakat.

Dalam dunia pergaulan sosial, eksistensi korban modernitas bisa dijumpai pada kelompok masyarakat hedonis-pragmatis. Hedonisme adalah paham gaya hidup yang berorientasi pada kesenangan dan kenikmatan duniawi. Sedangkan pragmatisme adalah pandangan hidup yang berorientasi pada kegunaan praktis untuk memenuhi kepentingan subyektif individu, bukan pada pengakuan kebenaran obyektif, sehingga menjadikan manusia cenderung individualis dan mengabaikan kepentingan kolektif (gotong-royong). Trend gaya hidup masyarakat yang suka pesta minuman keras, pesta narkoba, seks bebas, pornografi, porno aksi, korupsi, dll., yang semua berujung pada kesenangan dan kenikmatan duniawi, adalah ekspos paling konkrit dari perilaku manusia hedonis-pragmatis.

Dalam dunia pemikiran-keagamaan, eksistensi korban modernitas bisa dijumpai pada tipikal penganut liberalisme. Kelompok liberalisme pemikiran mentasbihkan rasio sebagai instrumen utama dalam memahami teks keagamaan. Spirit dari kelompok liberalis sebenarnya sangat mulia, yaitu melakukan gerakan pembaharuan dan pembebasan dari hegemoni taqlid buta yang mengakibatkan kejumudan dan kemunduran umat. Namun, karena dalam penggunaan rasio terlalu bebas, radikal, dan ekstrem, hingga tak jarang membentur wilayah-wilayah qath’i yang tidak mengizinkan aktivitas ijtihad, serta superioritas moralnya yang mulai diragukan, selanjutnya rasionalitas kelompok liberal tidak lagi dianggap sebagai penjelasan keagamaan yang meyakinkan.  

3.   Penakluk Modernitas

Penakluk modernitas adalah kelompok manusia dengan mindset dan pandangan hidup yang inklusif-selektif dalam merespon arus modernisasi. Bagi kelompok manusia penakluk modernitas, era modern bukanlah hantu sejarah yang harus dijauhi, melainkan realitas sejarah yang menantang untuk ditaklukkan.

Kendati embrio modernisme lahir dan besar dari rahim peradaban Barat, namun modernisme bukanlah monopoli dunia Barat. Karena itu, modernisasi bukanlah westernisasi (pembaratan). Modernisasi adalah keniscayaan dari dinamika sejarah setiap umat manusia. Modernisasi merupakan proses evolusi sejarah menuju kedewasaan peradaban yang sangat fitri. Menolaknya secara total, sama saja dengan melawan derap perjalanan waktu. Dan itu bukan pilihan cerdas.

Manusia penakluk modernitas percaya bahwa, segala zaman selalu dianggap modern oleh masanya. Karenanya, manusia penakluk modernitas senantiasa mengapresiasi secara kritis, adil, dan proporsional kepada semua zaman. Manusia penakluk modernitas adalah putra zaman, atau manusia sejarah yang arif terhadap tradisi dan masa lalu, serta tidak skeptis dan melarikan diri dari realitas dunia modern, namun berani menantang dan menaklukkannya agar sanggup tampil di garda terdepan memimpin dinamika modernitas menuju peradaban madani.

Ciri paling khas tipikal manusia penakluk modernitas adalah berpandangan arif dan progresif, namun sekaligus kritis terhadap nilai-nilai destruktif dari era modern.

Tantangan dan Sikap Generasi Islam

Dari analisa sederhana di atas, ada poin penting yang perlu ditegaskan. Bahwa, modernisme bukanlah degradasi moral, rapuhnya kekuatan norma agama, runtuhnya etika tradisional, lunturnya ikatan sosial, ataupun mengeringnya dimensi spiritual. Modernisme bukanlah krisis modernisme. Krisis modernsime adalah faktor eksternal dari modernisme. Kendatipun wajah modernisme diwarnai dengan ekses-ekse destruktif, namun tidak berarti modernisme tidak bisa dipisahkan darinya. Dan di sinilah titik yang menjadi tantangan dan tanggung jawab sejarah bagi generasi muda Islam.

Generasi muda Islam dilahirkan bukan untuk tunduk, menyerah, dan pasrah menjadi korban dari kerusakan zamannya. Generasi muda Islam dilahirkan untuk menjalankan misi besar sebagai pemimpin peradaban zamannya (khalîfah).

إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيفَةً فِي الْأَرْضِ فَاحْكُمْ بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ 

Sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil. (QS. Shâd: 26) 

إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً 

Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi. (QS. Albaqarah: 30)

Generasi muda Islam dilahirkan bukan untuk menjadi manusia kalah, lemah, hina, dan nestapa, tapi untuk memenangakan sebuah kemuliaan zaman yang berperadaban luhur.

وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ 

Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. (QS. Ali Imran: 139)

Karena itu, dari tiga jenis kelompok manusia yang diuraikan di atas, bagi generasi muda Islam tidak ada pilihan kecuali menjadi manusia penakluk modernitas. Generasi muda Islam harus memutuskan pilihan cerdas ini. Sebab, sikap demikan merupakan pilihan sejarah (the history choise). Tanpa keberanian menjadi manusia penakluk modernitas, sama saja dengan mengizinkan ‘Dajal-Dajal’ sejarah menghancurkan peradaban manusia.

Menjadi manusia penakluk modernitas bukanlah pilihan yang diharamkan. Sebab, generasi Islam memiliki landasan ideologis untuk menjadi manusia penakluk modernitas, yang bersedia mengapresiasi kearifan sejarah dan masa lalu, serta tidak terasing dengan zamannya.

المُحَافَظَةُ عَلَى الْقَدِيْمِ الصَّالِحِ وَالْأَخْذُ بِالْجَدِيدِ الْأَصْلَحِ 

Melestarikan khazanah klasik yang relevan dan bersikap akomodatif-selektif terhadap modernitas yang positif. 

Landasan ideologis ini seharusnya memberikan tenaga bagi keberanian generasi muda Islam untuk menyudahi masa lalu yang dipastikan telah kehilangan relevansi, dan menumbuhkan rasa percaya diri untuk menantang era modern. Generasi muda Islam tidak bisa dibenarkan secara ideologis untuk berlama-lama menutup diri dan ketakutan dengan realitas modern, sebab di atas pundaknya memikul amanah sejarah. Amanah yang tidak akan terbayar hanya dengan terus-menerus bersikap eksklusif dan anti-modern. Sikap menutup diri adalah cerminan dari ketakutan, kekalahan, dan frustasi terhadap kenyataan modernitas. Sikap menutup diri hanyalah usaha protektif untuk penyelamatan diri sendiri, dan mengabaikan realitas zaman. Amanah sejarah generasi Islam tidak akan tunai hanya dengan strategi proteksi, melainkan butuh strategi ekspansi. Yaitu kesediaan untuk bersikap terbuka dan keluar melibatkan diri menuju medan dinamika modern.

Agar generasi muda Islam memungkinkan memiliki kepantasan tampil menjadi manusia penakluk modernitas, ada beberapa kriteria ideal yang harus dipenuhi.  

1.   Memiliki karakter manusia lahir-batin

Yaitu pribadi yang memiliki integritas kecerdasan intelektual (lahiriah) dan kecerdasan moral-spiritual (batiniah). Kecerdasan intelek (rasio) menjadikan seseorang memiliki kesiapan bersaing dan menjadi pemenang dalam kompetisi dunia modern. Sedangkan kecerdasan moral-spiritual (hati) akan melindunginya dari terjangan krisis modernisme.

Kecerdasan intelektual tanpa diintegrasikan dengan kecerdasan moral-spiritual, akan membentuk karakter manusia-manusia timpang, saintis namun tak bermoral, yang jauh lebih berbahaya dari manusia bodoh sekalipun. Sebaliknya, kecerdasan moral-spiritual tanpa diintegrasikan dengan kecerdasan intelektual akan membentuk karakter manusia-manusia ironi, relegius namun psikopat. Dan orang-orang dengan karakter timpang dan ironi seperti inilah yang menghegemoni peradaban modern. Karenanya, di era modern, betapa banyak orang pintar namun jahat dan membodohi umat, orang kaya namun justru memeras masyarakat, dan orang berkuasa namun justru menindas rakyat. Sebaliknya, betapa banyak orang berhati baik, shalih, bertaqwa, namun tidak kaya, tidak berkuasa, dan tidak bisa berbuat apa-apa yang berarti bagi peradaban modern.

Era modern membutuhkan pribadi-pribadi dengan integritas keilmuan lahir-batin: saintis yang agamis, politikus yang religius, pemikir yang ahli dzikir, filsuf yang tasawuf, pakar ekonomi yang islami, ilmuwan yang beriman, budayawan yang budiman, artis yang agamis, hartawan yang zuhud dan dermawan.  

2.   Memiliki karakter manusia sejarah   

Yaitu pribadi yang memiliki kearifan terhadap tradisi dan masa lalu, serta tidak terasing dengan zamannya. Manusia dengan tipikal seperti ini akan mampu menjadi jembatan transvormatif antar zaman. Ia mewarisi khazanah masa klasik, dan ia juga mampu mengikuti kompetisi masa modern secara progresif dan produktif, sehingga ia memiliki prestasi sejarah yang bisa diwariskan untuk masa depan.

Inilah yang disebut manusia sejarah, atau putra zaman. Bukan generasi hebat yang hanya pintar membanggakan masa lalu, namun terasing dan tak berdaya menghadapi zamannya sendiri. Sebuah kalam syair mengatakan:

لَيْسَ الْفَتَى مَنْ يَقُولُ هَذَا أَبِي     *     وَلَكِنَّ الْفَتَى مَنْ يَقُولُ هَأَنَا ذَا 

Generasi muda bukanlah mereka yang hanya bisa membanggakan leluhurnya (masa lalu), tetapi generasi muda adalah mereka yang sanggup membuktikan prestasi dirinya sendiri (modern).   

3.   Memiliki karakter manusia dunia-akhirat

Yaitu pribadi yang memiliki obsesi kesuksesan duniawi (fî ad-dunyâ hasanah) sekaligus kesuksesan ukhrawi (fî al-‘âkhirah hasanah). Dalam mindset manusia penakluk modernitas, dunia dipandang sebagai ladang surga (mazra’ah al-‘âkhirah). Artinya, kehidupan dunia harus di-hasanah-kan agar gemerlap kemegahan duniawi tidak menjadi fitnah bagi manusia, melainkan menjadi sarana dan fasilitas untuk menggapai keselamatan ukhrawi.

Islam tidak mengharamkan hal-hal yang bersifat duniawi. Islam juga tidak mengajarkan umatnya untuk menjadi manusia “ndonyo bloko” ataupun “akherot bloko”. Kekayaan, kekuasaan, popularitas, kemajuan, progresivitas, sains, teknologi, dan produk-produk modernitas lainnya, bukan termasuk sesuatu yang bernilai duniawi yang harus ditolak dan dijauhi, sepanjang bisa diperalat sebagai instrumen (wasilah) mencapai prestasi yang bernilai ukhrawi. Rasulullah saw. bersabda:

كم من عمل يتصور بصورة أعمال الدنيا ويصير بحسن النية من أعمال الآخرة وكم من عمل يتصور بصورة أعمال الآخرة ثم يصير من أعمال الدنيا بسوء النية.

Betapa banyak aktivitas duniawi yang menjadi bernilai ukhrawi karena di dasari niat baik, dan betapa banyak ritual-ritual ukhrawi justru menjadi bernilai duniawi lantaran buruknya niat.

___________________
Disampaikan:
Oleh: Daimullah Goeztav, dalam seminar: Menyikapi Perkembangan Dan Pergaulan Remaja Islam Di Era Modern, di Pon. Pes. Terpadu Arrisalah, Lirboyo Kota Kediri, pada tanggal 20 Januari 2013.

Sabtu, 22 September 2012

ADAT ISTIADAT DALAM PERSPEKTIF SYARIAT



Oleh : Ustadz Mudaimullah*
A.      Prolog
Ada dua hal yang secara dominan mempengaruhi dinamika dan struktur sosial masyarakat, khususnya Jawa, yaitu agama dan budaya lokal. Dalam masyarakat Jawa, dua hal tersebut memiliki peranan penting dalam membentuk karakter khusus perilaku sosial yang kemudian sering disebut sebagai "jati diri" orang Jawa. Karakter khusus dimaksud mewarnai hampir di semua aspek sosial masyarakat Jawa baik secara politik, ekonomi maupun sosial budaya.
Struktur sosial masyarakat Indonesia (Jawa khususnya) bisa kita klasifikasikan ke dalam tiga golongan, yakni santri, priyayi dan abangan. Klasifikasi ini membuktikan adanya dominasi agama dan budaya lokal dalam membentuk struktur sosial. 

Tafsir Ayat -ayat Cinta


Oleh : Ustadz Mudaimullah*
PROLOG 
Sering kita mendengar ungkapan "cinta tak harus memiliki"yang pada umumnya lebih sebagai ungkapan ekspresif ketika perjalanan cinta gagal, ketimbang sebagai ungkapan filosofis dari hakikat cinta itu sendiri, di mana antara cinta dan keinginan untuk memiliki hakikatnya tidak ada relasi keterkaitan apapun. Dalam memahami dua perasaan tersebut sering terjadi kerancuan bahkan kekacauan, yang umumnya murni karena sugesti perasaan kedua yang relatif lebih dominan dibanding perasaan pertama. Dominasi ini pula yang sebenarnya menjadi biang kecemburuan buta, posesifitas dan egoisme bercinta. 

Kamis, 19 Juli 2012

Profil Radio Risalah FM Kediri


Risalah FM adalah radio dakwah yang berada bawah naungan Yayasan Pendidikan Ar-Risalah, mempunyai ciri khas sebagai radio dakwah. Masyarakat di kota kediri dan sekitarnya pada umumnya  mayoritas beragama Islam, sehingga sangat tepat sekali diadakannya radio dakwah yang penyiarannya berlandaskan pada nilai _ nilai Islam.
Banyaknya radio yang mengudara di kota kediri, serta menyajikan bermacam hiburan, dengan tayangan hiburan yang hampir sama, membuat radio risalah FM memberikan hiburan yang tidak kalah menariknya., tidak  ada batas usia. Karena hiburan bukan berarti musik dan cerita saja. Namun hiburan adalah segala sesuatu yang dapat menyenangkan serta menghibur orang-orang yang sedang menikmatinya.